Tampilkan postingan dengan label Tips Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juni 2017

Ini toh? 7 Kandungan dan Manfaat Kurma

Informasi Kesehatan | Apa kabar pembaca? Semoga anda dalam keadaan sehat selalu, kali ini kita akan membahas tentang salah satu buah yang lezat dan begitu berkhasiat. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan dapat dibuktikan bahwa kurma berkhasiat dan dapat meredakan berbagai macam penyakit. Hal tersebut dikarenakan kandungan vitamin dan mineral kurma yang sangat berlimpah. Berikut ini adalah 7 kandungan dan manfaat kurma:

7 Kandungan dan Manfaat Kurma
7 Kandungan dan Manfaat Kurma

1. Kurma memiliki konsentrasi polifenol tertinggi dibanding buah - buahan kering lainnya. Polifenol berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi dan serangan penyakit. (University of Scranton, Amerika Serikat)

2. Kurma juga mengandung serat cukup tinggi yaitu 2,2gr/100gr buah. Vitamin dan mineral yang terkandung didalamnya antara lain vitamin A, B, C, E, K, thiamin, riboflavin, niasin, folat, asam pantotenat, besi, fosfor, kalium, kalsium, natrium dan magnesium. (UNDIP Semarang)

3. Energi yang terkandung dalam kurma mencapai 300 kalori per 100 gram. Selain itu, 55% karbohidrat yang terkandung dalam kurma berupa glukosa. Glukosa termasuk karbohidrat yang mudah diubah menjadi energi sehingga dengan cepat dapat menggantikan energi yang hilang selama berpuasa.

4. Penelitian tim dari Shiraz University of Medical Sciences, Iran, membuktikan meminum suspensi buah kurma dosis 120 dan 240 mg/kg bobot tubuh mampu meningkatkan jumlah, motilitas, dan bentuk sperma, serta kualitas DNA.

5. Mengkonsumsi kuram setiap hari juga disebutkan mampu melindungi fungsi hati, menurut riset di Faculte de Medecine, Tunisia. Dalam penelitian itu disebutkan ekstrak kurma dapat memperbaiki kerusakan hati akibatdimethoate semacam insektisida.

6. Kurma memiliki aktifitas antioksidan signifikan karena didalam buah kurma segar terkandung senyawa antosianin yang merupakan antioksidan alami. (AISSMS College of Pharmacology)

7. Dalam buku Food, Your Miracle Medicine, Jane Carper, kurma mempunyai aktifitas aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam. Kurma kering, menurutnya, mengandung salisilat alias aspirin alami yang sangat tinggi.

Dari penjelasan diatas, buah kurma memiliki kandungan gizi yang cukup banyak yang tentunya baik untuk menjaga kesehatan. Tidak perlu menunggu bulan puasa untuk mengkonsumsi buah ini, karena buah ini baik juga dimakan setiap hari.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda, terimakasih telah berkunjung.

Minggu, 04 Juni 2017

Orang Muslim Wajib Tahu: Ternyata Sujud Seperti Ini Bisa Membatalkan Sholat..

Setiap muslim tentu mendambakan shalatnya khusu’ dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, oleh karena dalam melaksanakan shalat haruslah sesuai dengan apayang sudah dicontohkan dan dituntun oleh nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam.
Dalam sholat ada banyak gerakan yang dilakukan, seperti berdiri, ruqu’, sujud dan duduk. Setiap gerakan-gerakan tersebut seharusnya benar dan sesuai dengan sunnah nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Berikut ini ada sebuah info penting bagaimana sujud yang malah bisa membatalkan shalat.
Seperti yang dikutip dari infoyunik.com, sujud merupakan salah satu gerakan wajib yang harus dilakukan ketika salat. Inilah salah satu bentuk ketaatan seorang hamba, dengan jalan merendahkan diri-Nya di hadapan Allah SWT.
Selain menjadi rukun salat, sujud juga memiliki manfaat menakjubkan jika dikaji dari segi medis. Posisi ini menyebabkan darah akan kaya oksigen dan bisa mengalir maksimal ke otak, sehingga berpengaruh terhadap daya pikir seseorang.
Seperti gerakan salat lainnya, bersujud juga memiliki aturan tersendiri. Jika salah dalam gerakannya maka akan menyebabkan batal dan tidak sah nya salat seseorang. Lantas seperti apa sujud yang benar dan sujud yang membatalkan salat? Berikut ulasannya.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain riwayat tersebut, hadist riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari keterangan di atas terdapat tujuh anggota tubuh yang terlibat saat seseorang melaksanakan sujud. Anggota tubuh tersebut antara lain, dahi dan mencakup hidung, dua telapak tangan, lutut dan dua ujung kaki.
Sujud yang salah mungkin sering dilakukan seorang muslim ketika salat. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan membutuhkan pencerahan.
Tidak dipungkiri bahwa dalam salat ada orang-orang yang hanya menempelkan dahinya saja ke tanah atau lantai ketika bersujud. Cara tersebut salah karena Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk menempelkan dahi dan hidung ketika sujud. Hal ini berdasarkan dua hadist Rasulullah SAW berikut.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142).
An-Nawawi mengatakan, “Untuk anggota sujud dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki, apakah wajib sujud dengan menempelkan kedua anggota badan yang berpasangan itu? Ada dua pendapat Imam ‘alaihis salam-Syafii.
Pendapat pertama, tidak wajib. Namun sunah muakkad (yang ditekankan).
Pendapat kedua, hukumya wajib. Dan ini pendapat yang benar, dan yang dinilai kuat oleh as-Syafi’i Rahimahullah. Karena itu, jika ada salah satu anggota sujud yang tidak ditempelkan, shalatnya tidak sah.” (al-Majmu’, 4/208).
Sementara itu Dr. Sholeh al-Fauzan menjelaskan dua rincian untuk orang dalam bersujud. Jika seseorang tidak menempelkan tujuh anggota tubuhnya karena udzur yang menghalanginya.
Maka tidak ada masalah baginya untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa dia letakkan di tanah. Sedangkan anggota sujud yang tidak mampu dia letakkan, menjadi udzur baginya.
Akan tetapi ini tidak berlaku terhadap orang-orang yang masih sehat dan tanpa ada udzur yang diizinkan syariat, jika tidak meletakkan 7 anggota sujudnya, maka shalatnya tidak sah.
Karena dia mengurangi salah satu rukun shalat, yaitu sujud di atas 7 anggota sujud. Lalu bagaimana dengan wanita yang memakai mukena sehingga asesorisnya menutupi dahi? Ternyata hal ini juga banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Terkadang asesoris yang berlebihan dalam mukena yang terpasang di bagian muka, menghalangi jidat menempel di alas shalat ketika sujud. Hal ini dapat menyebabkan shalat wanita tersebut tidak sah.
Karenanya wanita diharapkan berhati-hati ketika memilih mukena untuk salat. Karena dengan mukena yang menutupi dahi, maka sujud tersebut tidak sah karena tidak langsung menyentuh tempat salat. Jika sujud tidak sah, otomatis salatnya juga tidak diterima.
Imam Taqiyuddin Asy-Syafi’I dalam Kifayatul Akhyar memberi penjelasan mengenai masalah tersebut, “Ketika seseorang bersujud dengan dahi dan hidung tidak menempel ke tanah (alas shalat) maka tidak sah, atau bersujud diatas serban (yang merupkan bagian dari busana) maupun lengan baju yang sedang ia pakai juga dianggap tidak sah, karena kesemuanya itu menempel dengan badan.”
Dengan artian apa saja yang sedang dipakai seseorang dalam shalat seperti mukena, serban, peci dan lain-lain yang menghalangi dahi maupun telapak tangan menempel ke alas shalat ketika bersujud maka tidak sah.
Sementara dengan sajadah atau serban yang sengaja digunakan sebagai alas sujud, tidak mengapa dipergunakan, karena tidak termasuk dalam sesuatu yang dipakai yang tidak mengikuti gerakan dalam shalat sebagai mukena.
Semoga artikel diatas bisa menambah wawasan kita semua sebagai muslim agar kedepannya shalat yang kita lakukan bisa diterima, sempurna dan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam.

INGAT!!! 10 Hal sering diremehkan ketika Ramadhan, Nomor 8 banyak orang lupa..


Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.
Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.
Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.
Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafal” ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoran” yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.
Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:
1- Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.
Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i’tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.
Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah — ta’ala –. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya — shollallohu ‘alaihi wa sallam — di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.
2- Niat ikhlas dalam puasa.
Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda,
قَالَ اللهُ عز وجل كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.
Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam –, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.
3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.
Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.
Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.
Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na’udzu billah min dzalik.
4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.
Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –.
Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq ‘alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.
Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — juga bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.” (Riwayat Muslim)
Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.
5- Mulianya waktu.
Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.” Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.
Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.
6- Ramadhan bulan doa.
Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.
Terlebih lagi Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — telah bersabda, “Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.” (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3032)
7- Antara hemat dan sedekah.
Di antara keistimewaan amalan Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – di bulan Ramadhan, beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau — shollallohu ‘alaihi wa sallam –, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.
Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.
8- Jangan lupakan tujuan puasa.
Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.” (Riwayat at-Tirmidzi)
Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. Wallahul muwaffiq.
9- I’tikaf.
Di antara sunnah (ajaran) Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i’tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah — ta’ala –. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?
10- Keagungan malam-malam terakhir.
Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai “lemas” dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Minggu, 29 Juni 2014

Daftar Waktu Lama Berpuasa di Berbagai Negara

Puasa ramadhan telah tiba, lama waktu puasa berpuasa setiap negara berbeda-beda. Di Indonesia lama waktu berpuasa 12 jam, tahukah Anda lama waktu berpuasa di berbagai negara ? Ramadhan tahun ini berlangsung di saat posisi kutub utara bumi lebih condong ke arah matahari. Akibatnya, umat Muslim yang berada di negara-negara belahan bumi utara (BBU) bakal mendapati siang yang lebih panjang dari malamnya. Dengan begitu, puasa mereka pun akan lebih lama dibandingkan mereka yang tinggal di belahan bumi selatan (BBS).